DAMPAK POSISITF DAN NEGATIF PANDEMI CORONAVIRUS DISEASE-2019 (COVID-19) TERHADAP PENDIDIKAN, EKONOMI DAN IBADAH JEMAAT

BAB I

PENDAHULUAN

Fakta mengawali tahun 2020, dunia dikejutkan oleh merebaknya wabah yang menjangkiti bukan hanya suatu wilayah atau negara tertentu, tetapi di seluruh dunia. Karena itu Organisasi Kesehatan se-Dunia (World Health Organization) atau WHO menyebutnya pandemi. Kata ini berasal dari bahasa Yunani Πανδημια (pandemia), bentukan dari kata pan (pan) yang artinya “semua” dan kata   δεμος (demos) yang berarti “orang”. Jadi, “pandemi” adalah epidemi penyakit yang menyebar di wilayah yang luas, misalnya beberapa benua, atau di seluruh dunia.[1] Menulari secara massif.

Akibat perebakan wabah virus pandemik ini bukan kepalang tanggung telah mengguncang-hebohkan. Dalam waktu yang begitu singkat, dari suatu kota yang letaknya berada di pedalaman negara Tingkok, telah menginfeksi ratusan juta manusia di hampir seluruh negara. Korban manusia yang ditimbulkannya bukan saja mengalami penderitaan fisik yang tersakiti, tetapi bahkan jiwa mereka yang terinfeksi. Bukan saja dari kalangan orang miskin dari negara miskin, tetapi juga orang-orang “besar” dari negara maju, dari para pejabat tinggi dan orang kaya, sampai orang yang bersahaja, di segala usia.

Tanpa mengenal batas negara, lingkup dan status sosial, penyakit virus Corona yang mulai muncul di tahun 2019 itu telah “membongkar” banyak tatanan yang selama ini dianggap sudah mapan. Diberi nama ilmiah Covid-19, akronim dari coronavirus disease-2019, penyakit pneumonia baru ini telah mencekik sangat banyak orang, sehingga sesuatu yang sangat murah dan gratis dibuatnya menjadi sangat sulit dihirup, yaitu udara. Kemapanan ekonomi, politik, religious seperti “dicabik-cabik” tidak bertahan, membuat mau atau tidak mau, semua pejabat dan semua negara harus meninjau ulang kebijakan yang selama ini dianggap sudah terbaik. Karena itu lahirlah suatu slogan baru yang dinamakan “New Normal” atau “kenormalan Baru” yang harus dijalankan dengan protokol yang ketat.

Indahnya nama “corona” dan bijaknya “kata” New Normal, tidak membuat masalah menjadi lebih sederhana. Banyak dampak yang harus dihadapi dan disikapi dengan kerja keras dan serius. Di antara dimensi-dimensi dan sektor-sektor kehidupan yang harus dibenahi atau ditinjau ulang praktik dan kebijakannya, yang paling terasa, ialah sektor pendidikan, sektor ekonomi dan sektor peribadatan keagamaan. Ketiga sektor ini yang mungkin paling “terpukul” oleh serangan pandemik virus korona 2019 ini.

Zaman yang berat ini bukan berarti zaman yang gelap tanpa peluang dan kesempatan. Di balik situasi seperti vivere pericoloso (hidup menyerempet bahaya) ini, tentu ada jugaaspek-aspek positif di balik semua dampak negatif yang tidak tahu sampai kapan akan menjepit. Karena itu, penulis memberi judul makalah yang membahas secara singkat, ringan dan sederhana tentang situasi terkahir dunia yang “sakit” ini dengan judul Dampak Negatif dan Posistif Pandemi Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) Terhadap Pendidikan, Ekonomi serta Rohani Warga Jemaat.

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi, diakses Selasa, 22-6-2020, pk.21.00.



BAB II
DAMPAK NEGATIF DAN POSITIF DARI PANDEMI CORONAVIRUS DISEASE-2019 (COVID-19) TERHADAP PENDIDIKAN,  EKONOMIDAN IBADAH JEMAAT

Hantaman pandemik Koronavirus 2019 telah menimbulkan banyak kesulitan pada berbagai sektor dari dimensi kehidupan manusia. Namun, di dalam dunia ini selalu ada paradoks, dua sisi yang selalu melengkapi namun saling kontradiksi. Di balik dampak yang menyebabkan korban jiwa dan korban lainnya, ada juga aspek-aspek positifnya. Di dalam makalah ini sifat paradoks itu hanya berkenaan pada tiga sektor saja, yaitu bidang pendidikan, bidang ekonomi, dan bidang kerohanian.

A.   Pemahaman Ringkas Pandemi Covid-19

Pendemi Koronavirus 2019, seperti yang diberitakan secara masif dan intens, setiap saat di portal web dan portal berita beberapa bulan ini, imbasnya, selain telah “menyedot” banyak perhatian, juga energi, dana, daya dan nyawa. Dunia menjadi “sakit” dan hal ini didigitalisasikan menjadi icon ketidakmampuan manusia, dan keterbatasan supremasi teknologi. Tidak ada “adidaya” yang bisa mengatasi infeksinya, sakalipun itu untuk sampai saat makalah ini ditulis.

Menurut sebuah situs yang banyak dikutip menjadi sumber referensi, Pandemi Koronavirus 2019–2020 atau dikenal sebagai pandemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya penyakit koronavirus di tahun 2019, yang dalam bahasa Inggris dinamai coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19, di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.[1]

Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada bulan Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020.[1] Sampai tanggal 22 Juni, 2020, kasus yang terinfeksi, di seluruh dunia sebanyak 9.003.042 orang, di Indonesia 46.845 orang. Kasus Covid-19 ini telah dilaporkan menjangkiti di lebih dari 210 negara, mengakibatkan lebih dari 469.122 orang meninggal di seluruh dunia, dan 2.500 orang di Indonesia. kendati yang sembuh  4.463.969 orang di seluruh dunia, dan 18.735 orang di Indonesia.[2]

Viruskorona atau Covid-19 ini, menurut para ahlinya, dikategorikan sebagai virus corona baru. Artinya, sebelumnya sudah ada virus corona, tetapi tidak sebahaya Covid-19, dan tidak menginfeksi manusia. Bahasa ilmiah Virus korona baru ini awalnya disimbolkan 2019-nCoV oleh WHO. Huruf n berarti novel atau baru, dan CoV berarti coronavirus atau virus korona. Virus 2019-nCoV merupakan spesies ketujuh dalam keluarga Coronaviridae yang mampu menginfeksi manusia, selain 229E, NL63, OC43, HKU1, MERS-CoV, dan SARS-CoV. Pada 11 Februari 2020, Komite Internasional Taksonomi Virus (ICTV) memberi nama virus ini koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2, disingkat SARS-CoV-2) yang merupakan galur dalam spesies SARS-CoV[3]

Dari sebuah sumber dikatakan, bahwa Virus SARS-CoV-2 diduga menyebar di antara orang-orang, terutama melalui percikan pernapasan atau droplet yang dihasilkan selama batuk. Percikan ini dapat dihasilkan dari bersin dan pernapasan normal. Selain itu, virus dapat menyebar akibat menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi, kemudian menyentuh wajah seseorang. Penyakit COVID-19 paling menular saat orang yang menderitanya memiliki gejala, meskipun penyebaran mungkin saja terjadi sebelum gejala muncul. Periode waktu antara paparan virus dan munculnya gejala biasanya sekitar lima hari, tetapi dapat berkisar dari dua hingga empat belas hari. Gejala umum di antaranya demam, batuk, dan sesak napas. Komplikasi dapat berupa pneumonia dan penyakit pernapasan akut berat. Belum ada vaksin atau antivirus khusus untuk mengobati penyakit ini. Pengobatan primer yang diberikan berupa terapi simtomatik dan suportif. Langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan seperti mencuci tangan, menutup mulut, menjaga jarak dari orang lain, serta pemantauan dan isolasi diri untuk orang yang dicurigai mereka terinfeksi.[4]

Upaya mencegah penyebaran termasuk pembatasan perjalanan, karantina, pemberlakuan jam malam, penundaan dan pembatalan acara, serta penutupan berbagai fasilitas, telah dilakukan baik secara sektoral maupun secara nasional di seluruh dunia. Kalau di dunia internasional pembatasan gerak itu disebit lockdown, maka di Indonesia digunakan istilah dan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Selain itu dengan gencar pemerintah, juga swasta, membuka saluran informasi mengenai berbagai hal termasuk mencegah misinformasi atau hoax yang dapat menimbukan kepanikan dan ketakutan massal.

B.   Dampak Negatif-Positif Pandemik Covid-19 di Bidang Pendidikan

Dari sekian banyak sektor yang terdampak oleh wabah Covid-19 ini, salah satunya sektor pendidikan. Wabah Covid-19 ini sudah mengubah tatanan dan kebijakan pendidikan di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Pandemi Covid-19 telah menghantarkan dunia kepada era kekhawatiran sekaligus tantangan, era New Normal pendidikan

1.    Dampak Negatif

Menilik dari kacamata edukatif, pandemi ini telah menimbulkan ancaman bagi dunia pendidikan. Padahal semua orang menyadari bahwa sekolah adalah tempatnya menimba ilmu pengetahuan, yang berperan besar dalam kehidupan manusia, dan itu dimulai dari pendidikan. Berikut ini beberapa dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19 ini.

a.    Menurut Pandangan Menteri Pendikan dan Kebudayaan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, ketika berdiskusi dan diwawancarai oleh Najwa Shihab, dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 bertema “Belajar dari Covid-19” yang ditayangan live streaming di kanal Youtube Kemdikbud RI, Sabtu (2/5/2020) malam, ringkasnya menyatakan, antara lain:

1)   Pandemi Covid-19 ini telah menimbulkan dampak kecil dimulai dari keluarga. “Dampak mikro ialah di dalam keluarga. Karena keluarga itu luar biasa sebagai unit terpenting kita.”

2)    Pembelajaran daring yang saat ini diterapkan menjadikan orang tua sadar betapa sulitnya mendidik anak.

3)    Terjadi gap atau ketidakrataan pendidikan di Indonesia. Ada beberapa daerah (daerah tertinggal) yang perlu dibantu.

4)    Pembelajaran jadi tidak optimal. Pembelajaran tatap muka langsung memang jauh lebih efektif. Juga dikatakan beliau, “Mau secanggih apapun teknologi, tapi ujung-ujungnya yang melakukan perubahan ialah guru. Kini guru dan orang tua yang melakukan perubahan itu.

5)    Lebih mirisnya, program Belajar dari Rumah yang berkolaborasi dengan TVRI belum optimal. Sebab, ada daerah tertinggal yang tidak terjangkau jaringan internet, ada juga daerah yang tidak terjangkau listrik. Atau ada keluarga yang tidak memiliki TV.[5]

b.    Tidak Ada Pembelajaran di Ruang Kelas

Sejak Pemerintah menetapkan meniadakan pembelajaran secara langsung, semua pembelajaran berubah menjadi sistem online atau daring. Merubah metode pembelajaran dengan tatap muka yang sangat efektif. Dampak negatif terhadap proses pembelajaran seperti ini ialah kurangnya siswa atau mahasiswa dalam pemahaman materi yang disampaikan. Belajar sistem daring menjadi dua kali lipat dalam penggunaan kuota internet. Mahasiswa atau murid lemah dalam penguasaan materi, hanya berbentuk penugasan dan lemah dalam pola penilaian.[6]

c.    Kesenjangan Sumber Daya

Saat semua jenis pembelajaran dilakukan secara online di rumah, terdapat kesenjangan dari segi fasilitas. Banyak murid yang selama ini bergantung pada fasilitas pendidikan yang disediakan oleh sekolah dan kampus mengalami kesulitan belajar. Sebab tidak semua murid atau mahasiswa memiliki fasilitas baik itu gadget, koneksi internet, atau bahkan listrik. Apalagi  yang tinggal di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Terluar).[7]

d.    Proses Belajar Terasa Lebih Berat

Beberapa murid dan mahasiswa merasa bahwa pembelajaran dari rumah terasa lebih berat dari sebelumnya. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh The Conversation, beberapa orang tua murid menyarankan agar pembelajaran jarak jauh tidak terbatas pada pemberian tugas saja. Ada baiknya jika sesi penyampaian materi diperbanyak, agar murid dapat benar-benar merasa seperti belajar dan tidak hanya diberi tugas saja.[8]

Akibat penutupan sekolah berdampak pada anak dalam menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai tingkatan kelas yang diharapkan. Juga pada peningkatan anak putus sekolah akibat kesulitan dan kontraksi ekonomi yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini pun dirasakan bagi anak-anak penyandang disabilitas, mereka sulit belajar dari jarak jauh dengan efektif karena lebih memerlukan kontak fisik dan emosional dengan guru serta mengandalkan alat-alat dan terapi khusus.[9]

e.    Meningkatnya Risiko Berinternet

Dilansir dari UNICEF, meningkatnya waktu murid belajar dan bersosialisasi secara online di internet, meningkatkan risiko berbahaya. Khususnya untuk murid pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama). Risiko tersebut antara lain cyberbullying, juga konten negatif yang tersebar di internet berpotensi membahayakan anak.[10]

2.    Dampak Positif

Secara natural, setiap hal negatif muncul akan disusul pula hal-hal positif. Itu juga terjadi di dunia pendidikan, akibat pandemik Covid-19.

a.     Penyediaan Platform

Dampak positif yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku pendidikan di Indonesia dan mancanegara adalah munculnya upaya penyediaan flatform pendidikan resmi yang kreatif. Dilansir dari UNESCO, setiap negara merespon terhadap Corona dengan menyediakan platform pendidikan resmi dari pemerintah. Platform resmi pendidikan di Indonesia, di antaranya Program Rumah Belajar (program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia) dan SPADA (program Ristek Dikti).[11]

b.    Memicu Percepatan Transformasi Pendidikan

Covid-19 yang menyebabkan penutupan sekolah-sekolah demi menghentikan pergerakkan pandemiknya. Sebagai gantinya, pemerintah telah memberlakukan sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Sistem PJJ yang berbasis teknologi tentu mengharuskan lembaga pendidikan, guru, siswa bahkan orang tua agar cakap teknologi. Hal ini memicu percepatan transformasi teknologi pendidikan di negeri ini. Ini berdampak positif karena penggunaan teknologi dalam pendidikan selaras dengan era Revolusi Industri 4.0 yang terus merangsek maju.[12]

c.    Banyak Munculnya Aplikasi Belajar Online

Percepatan transformasi teknologi pendidikan karena pandemi Corona membuat berbagai platform meluncurkan berbagai aplikasi belajar online guna mendukung PJJ. Banyak munculnya aplikasi belajar online membuat belajar #DariRumahAja tetap dapat dilakukan dengan efektif. Aplikasi-aplikasi belajar online dikembangkan dengan penyediaan fitur-fitur yang memudahkan dalam melakoni belajar online.[13]

d.    Banyaknya Kursus Online Gratis

Banyak lembaga bimbingan belajar memberikan kursus online gratis atau dengan memberikan potongan harga.

e.    Munculnya Kreativitas Tanpa Batas

Pandemi Corona membuat ide-ide baru bermunculan. Para ilmuwan, peneliti, dosen bahkan mahasiswa melakukan eksperimen, selain untuk menemukan vaksi Covid-19, juga menciptkan penemuan-penemuan lain, suatu daya kreativitas tanpa batas.

f.     Kolaborasi Orang Tua dan Guru

Selama peserta didik menghabiskan waktu belajar di rumah, tercipta kolaborasi yang inovatif antara orang tua dan guru sehingga peserta didik tetap bisa menjalani belajar online dengan efektif. Selain itu, kolaborasi yang inovatif dapat mengatasi berbagai keluhan selama menjalani belajar online. Ini akan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan baik di masa kini maupun masa mendatang.[14]

g.    Penerapan Ilmu di Tengah Keluarga

Saat semua sekolah ditutup dan semua belajar dari rumah, waktu yang ada dapat menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk menerapkan ilmu di tengah keluarga. Baik hanya sekedar membuka diskusi kecil atau dengan mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada keluarga. Ini berperan penting dalam meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap suatu ilmu dengan cara aplikasi secara langsung.

C.   Dampak Negatif dan Positif Pandemi Covid-2019 di Bidang Ekonomi

Dampak wabah virus Corona (Covid-19) tidak hanya merugikan sisi kesehatan, tetapi juga sisi ekonomi. Secara global, Covid-19 ini sudah mempengaruhi perekonomian baik dalam skala keluarga, lokal dan negara di seluruh dunia. Secara langsung wabah Corona sebagai pandemi sudah mempengaruhi dunia usaha.

Khusus di Indonesia, pemerintah mencoba melakukan berbagai upaya untuk menekan dampak virus Corona dalam berbagai kebijakan di berbagai sektor perekonomian. Beberapa stimulus ekonomi diluncurkan, bahkan Presiden Joko Widodo meminta seluruh pihak untuk melakukan social distancing termasuk Work From Home (WFH), dan sebagainya, yang langsung atau tidak telah membuat perlambatan gerakan dunia usaha yang berdampak terhadap penghasilan dan perekonomian.

Ada beberapa dampak yang dapat dilihat secara parsial. Pertama dari sisi ekonomi tingkat tinggi, seperti perusahaan manufaktur otomotif dan lainnya, berada di bawah tekanan besar karena ketergantungan pada rantai pasokan global sehingga menghambat proses produksi. Industri garment yang memberlakukan sistem pengurangan kepadatan karyawan dengan cara dua pekan kerja dan dua pekan libur guna mengurangi penyebaran virus corona, berdampak pada menurunnya produksi sehingga perusahaan mengalami kerugian dan berujung PHK. Sektor pariwisata dan penerbangan yang sepi penumpang akibat kebijakan social distancing, menyebabkan ritel non makanan menjadi sepi pengunjung. Kedua tingkat sedang, seperti industri perfilman yang mengurangi proses syuting, industri media dan pers yang terhambat mencari konten dan berita.[15] Ketiga tingkat rendah, seperti industri sektorjasa yang menurunkan orderan kendatipun berskala kecil pengaruhnya.[16]  Pupusnya pendapatan dunia usaha kecil.

Fokus kepada kelompok masyarakat berpenghasilan kecil dan menengah, dampak itu terjadi baik secara negatif, tetapi juga secara positif. Secara negatif, menyebabkan semakin banyak orang miskin akibat terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sangat banyak perusahan yang juga sangat merasakan beratnya akibat pandemi Covid-19 ini.

Dampak positifnya, melalui kebijakan Pemerintah yang pro rakyat, banyak warga yang dulu kekurangan mendapat santunan berupa bantuan yang layak, yang cukup banyak jumlah-nya, seperti bantuan PKH (Program Keluarga Harapan); BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) yang dulu dikenal namanya Raskin, berupa bahan makanan yang disalurkan melalui Kios Desa yang ditentukan oleh Bank Mandiri Kerja sama TKSK Kecamatan; BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari Kementerian Sosial yang diambil dari Dana Desa di masing-masing desa, bantuan tunai sebesar rp.600 ribuh rupiah per bulan; sembako APBD, yaitu bantuan berupa bahan makanan yang bersumber dari APBD Provinsi dan Kabupaten.

Selain itu, Pemerintah menurunkan bantuan kepada masyarakat kurang mampu melalui kebijakan pembebasan biaya listrik dengan daya 450 VA dan pemotongan 50% dengan daya 900 VA. Walau memang, kebijakan ini belum mampu menghapus kekhawatiran masyarakat untuk tetap berada di rumah sesuai anjuran Pemerintah.[17]

Berdasarkan apa yang penulis saksikan sendiri, selama beberapa bulan bencana Covid-19 ini telah menggerakkan banyak orang kaya yang juga menyumbang sebagian kekayaannya untuk membantu warga dan warga jemaat yang tidak mampu, sehingga tidak sampai mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. Sehingga terjadi keseimbangan sosial dan praktik saling mengasihi dan memperhatikan.

D.   Dampak Covid-2019 Terhadap Rohani Warga Jemaat

1.    Perpindahan Anggota Jemaat Selama dan Sesudah Covid-19

Virus korona telah menginfeksi manusia dengan daya ubah dan “cekikan” terhadap vitalitas manusia di segala aspek di seluruh dunia, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tanpa membedakan mana yang profan dan mana sakral, mana yang sekular dan mana yang spiritual, pandemi Coronavirus-2019 juga sudah masuk ke ruang publik-keagamaan.

Akibat perjuangan pemutusan penyebaran infeksi viruskorona-19, dunia dan semua negara membuat kebijakan mengatur jarak sosial kepada seluruh warganya. Mulanya WHO menyebutnya sebagai social distancing, tetapi kemudian mengubahnya menjadi physical distancing, yang intinya membangun isolasi dengan menghindari sentuhan fisik di antara sesama.

Momen isolasi sosial ini telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan bergereja. Banyak orang Kristen mulai mengkaji ulang hakikat ibadah, gereja, dan pelayanan. Ibadah tidak lagi dibatasi oleh ruang dan penampilan. Ibadah ternyata dapat dilakukan di dalam rumah atau kost, dengan pakaian sehari-hari dan dalam suasana yang lebih non-formal. Gereja bukan lagi melulu dikaitkan dengan bangunan, tetapi orang. Persekutuan bukan sekadar berkumpul bersama di tempat yang sama dan melakukan ritual yang sama. Persekutuan itu tentang hati. Pelayanan juga tidak lagi identik dengan segala sesuatu yang gerejawi. Orang mulai berbondong-bondong memikirkan pelayanan di luar tembok gereja. Kepedulian sosial semakin kental. Peluang melayani di gereja seperti yang biasanya untuk sementara telah ditangguhkan.[18]

Mengutip sebuah tulisan, oleh Handi Irawan D, CEO Frontier Group, Ketua Bilangan Research Center (BRC), Wakil Ketua Yayasan SAAT; dan Cemara A. Putra, Senior Researcher Bilangan Research Center, memaparkan Tujuh Tantangan Gereja di Masa Pandemi Covid-19 dan Alternatif Solusinya. Ada beberapa sebab dan kondisi yang terjadi.

a.    Realita (yang memungkinkan terjadi)

       1)    Tidak tersedianya ibadah live streaming di setiap gereja

       2)    Kemudahan untuk mengikuti ibadah streaming di gereja lain

       3)    Preferensi pemilihan saluran streaming, (bisa disebabkan…)

              a)    Popularitas Pengkhotbah di dunia digital

              b)    Kesamaam aliran atau denominasi

              c)    Kualitas khotbah

Berdasarkan hasil survei BRC tahun 2017, satu dari dua gereja yang mengalami pertambahan anggota, yang paling utama adalah karena perpindahan anggota dari gereja lain (bukan hasil penginjilan kepada non-Kristen). Sebelum pandemi, memang sudah ada kecenderunagn jemaat berpindah gereja.

b.    Solusi

       1)    Pendeta, majelis dan segenap pengurus melakukan pendataan dan perbaikan database jemaat.

       2)    Mengadakan kelompok-kelompok persekutuan sebagai komunitas dan sekaligus meningkatkan kualitas interaksi antaranggota jemaat, majelis, dan pendeta.

       3)    Memberikan “makanan rohani” yang lebih sesuai dengan kebutuhan jemaat, termasuk menyiapkan konten persekutuan keluarga dan renungan harian yang berseri.

Berdasarkan hasil survei BRC tahunh 2019, dua dari tiga jemaat tidak melakukan persekutuan keluarga. Dari hasil survei BRC tahun 2017, sosok yang paling menuntun pada Tuhan Yesus adalah: 73.1% orang tua, 10.6% pendeta. Tetapi hanya 23% orang tua yang dianggap baik dalam membimbing spiritualitas anak selanjutnya.

2.    Ketidaksiapan Gereja dengan Teknologi

a.    Realita

       Beberapa gereja tidak bisa melakukan ibadah online karena:

       1)    Gereja tidak tahu caranya, meski infrastruktur mendukung

       2)    Gereja tidak memiliki sumber daya manusia yang mampu

       3)    Infrastruktur tidak mendukung (internet, listrik, dan lain-lain)

       Artinya, ketidaksiapan gereja dengan teknologi.

b.    Solusi

       1)    Sinode bekerjasama dengan gereja yang sudah menguasai dan menggunakan teknologi untuk mengadakan pelatihan.

       2)    Kolaborasi dengan “gereja lain” yang sudah mengadopsi teknologi.

       3)    Memberdayakan jemaat muda yang paham teknologi.

Hasil survei bulan Januari 2020, dari total populasi Indonesia, 272.1 juta orang (penduduk urbannya 55%), yang terhubung dengan telefon genggam sebanyak 338.2 koneksi dari total populasi, atau 124%. Pengguan internet sebanyak 175.4 juta orang, atau 64%; pengguan media sosial aktif sebesar 160 juta orang atau 59%.

3.    Jeemaat Tidak Merasa Ada Engagement (Keterikatan/keterhubungan) dari Gembala/Pendeta

a.    Realitas

       1)    Adanya perubahan dari ibadah di gedung gereja menjadi online menyebabkan relasi yang tadinya intens menjadi berjarak.

       2)    Pemberian renungan oleh gembala atau pendeta tidak secara otomatis dianggap oleh anggota jemaat sebagai sapaan pastoral.

       3)    Gembala atau pendeta tidak mengetahui kondisi pertumbuhan iman/spiritualitas jemaat.

b.    Solusi

       1)    Melakukan Pendalaman Alkitab melalui media online seperti Zoom, GoogleMeet, dan lain-lain.

       2)    Melakukan dialog dengan kumpulan anggota jemaat melalui WhatsApp Group dan sejenisnya.

       3)    Mengontak secara personal masing-masing keluarga jemaat dan menawarkan pelayanan konseling.

4.    Sebagian Gereja Mengalami Kekurangan Dana karena Penurunan Pemasukan (Persembahan)

a.    Realita

       1)    Besarnya penurunan persembahan

              a)    Gereja Kecil: 50% – 80%

              b)    Gereja Besar: 20% – 60%

       2)    Penyebabnya:

              a)    Penurunan pendapatan jemaat, terutama dari jemaat kelas menengah ke bahwa

              b)    Kesulitan teknologi untuk memberikan persembahan secara online

              c)    Sebagian jemaat memang sudah pindah gereja lain (yang mengikuti live streaming-nya).

b.    Solusi

       1)    Gereja mempermudah jemaat untuk memberikan persembahan melalui digital payment (m-banking, e-money, dan lain-lain.

       2)    Sinode melakukan “Cross Funding” untuk kebutuhan pendanaan gereja.

       3)    Melakukan penggalangan dana untuk disalurkan ke gereja dan anggota jemaat yang membutuhkan.

5.    Sekolah Minggu Terabaikan

a.    Realitas

       1)    Gereja kekurangan sumber daya untuk mengadakan ibadah online Sekolah Minggu

       2)    Kesulitan untuk membuat konten yang menarik yang membuat anak dapat mengikuti ibadah dari awal sampai akhir.

b.    Solusi

       1)    Sinode atau Wilayah Regional mengadakan ibadah online/rekaman khusus Sekolah Minngu

       2)    Bekerja sama dengan penyedia konten Sekolah Minnggu

       3)    Gereja membekali orang tua untuk menjadi pembimbing rohani abgi anak-anak.

6.    Penginjilan Tidak menjadi Prioritas

a.    Realita

       1)    Adanya Physical Distancing membuat penginjilan atau program misi sulit dilakukan karena keterbatasan cara berkomunikasi secara personal.

       2)    Gereja lebih memusatkan sumber daya untuk memastikan semua anggota jemaat terlayani dengan baik.

b.    Solusi

       1)    Membangun atau memperkuat kanal-kanal media sosial gereja (IG, Facebook, Youtube) yang dapat menjadi platform penginjilan.

       2)    Memformulasikan strategi penginjilan serta membuat konten melalui media sosial.

       3)    Gereja melibatkan diri di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan untuk membangun pelayanan holistik.

Menurut surve1 Januari 2020 tentang penggunaan waktu dengan media sosial di Indonesia, berinternet menghabiskan waktu 7 jam 59 menit. Menggunakan sosial media 3 jam 26 menit, menonton televisi 3 jam 4 menit, mendengarkan acara musik streaming (listening to music streaning sevice) 1 jam 30 menit, dan menggunakan waktu untuk main game selama 1 jam 23 menit.

Survei selama April 2020, Covid-19 meningkatkan penggunaan media sosial oleh kelompok usia. Ditemukan data: usia 16-24 tahun menggunakan lebih banyak waktu untuk sosial media sebanyak 58%. Kelompok usia 25-34 tahun 50%, usia 35-44 tahun 44%, usia 55-64 tahun 32%.

7.    Sebagian Hamba Tuhan Khawatir Tidak Dibutuhkan dalam Pelayanan dan Kehilangan Kepercayaan Diri

a.    Realita

       1)    Kebanyakan live streaming diisi oleh Hamba Tuhan senior, sehingga yang masih junior tidak mendapat kesempatan.

       2)    Beberapa Hamba Tuhan menjadi minder karena tidak tahu harus melakukan apa dengan keterbatasan yang dimiliki.

       3)    Tidak semua Hamba Tuhan siap dengan lingkungan pelayanan yang serba digital.

b.    Solusi

       1)    Memberikan kesempatan pada Hamba Tuhan junior untuk mengikuti pelatihan dan edukasi digital.

       2)    Hamba Tuhan yang tidak bertugas pada ibadah streaming dapat dilibatkan aktif dalam program pemuridan atau kelompok sel.

       3)    Menggerakkan Hmba Tuhan untuk aktif membantu jemaat dan komunitas yang membutuhkan bantuan.

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi_COVID-19#cite_note-Gorbalenya-1, diakses 21-6-2020


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi_COVID-19, diakses Mingu, 21-6-2020, pk. 17.30 Wib

[2] https://www.tempo.co/kasus coronavirus di… Selasa, 23 Juni 2020.

[3] Wikipedia mengutip: Gorbalenya, Alexander E. (11 Februari 2020). “Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus – The species and its viruses, a statement of the Coronavirus Study Group”. bioRxiv: 2020.02.07.937862. doi:10.1101/2020.02.07.937862.

[4] Wikipedia mengutip: “Q&A on coronaviruses”. World Health Organization. 11 February 2020.

[5] https://www.kompas.com/edu/read/2020/05/03/092749071/diskusi-mendikbud-dan-najwa-shihab-ini-dampak-positif-negatif-corona-di?page=all., diakses Senin, 22-6-2020.

[6] Diedi dari https://www.kompasiana.com/mauidotulhasanah/5ea79ff4097f3621722bfdb2/ dampak-positif-dan-negatif-dari-covid-19

[7] https://glints.com/id/lowongan/dampak-corona-bagi-pendidikan/diakses 22-6-2020

[8] Ibid/loc.cit

[9] https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/ninda/dampak-covid-19-indonesia-alami-krisis-pendidikan-pada-anak-anak/2. Diakses 22-6-2020

[10] https://glints.com/id/lowongan/dampak-corona-bagi-pendidikan/#.XvIxU2gzbM1, diakses 22-6-2020

[11] https://glints.com/id/lowongan/dampak-corona-bagi-pendidikan/#.XvIxU2gzbM1

[12] https://suteki.co.id/covid-19-picu-percepatan-transformasi-digital-pendidikan-indonesia/

[13] Ibid/loc.cit

[14] https://www.kompas.com/edu/read/2020/05/03/092749071/diskusi-mendikbud-dan-najwa-shihab-ini-dampak-positif-negatif-corona-di?page=all

[15] https://sukabumiupdate.com/detail/bale-warga/opini/68505-Dampak-Covid-19-Terhadap-Perekonomian-dan-Kebijakan-Pemerintah-Indonesia, akses tgl 22-6-2020.

[16] https://sukabumiupdate.com/detail/bale-warga/opini/68505-Dampak-Covid-19-Terhadap-Perekonomian-dan-Kebijakan-Pemerintah-Indonesia, akses tgl. 22-6-2020.

[17] https://mediaindonesia.com/read/detail/301866-langkah-pemerintah-tangani-dampak-covid-19-sudah-tepat

[18] http://rec.or.id/article_1125_Bagaimana-Gereja-Menghadapi-Perubahan-Paska-Wabah-Covid-19



BAB III

KESIMPULAN

Fokus bahasan makalah ini hendak menunjukkan bahwa pandemi Coronavirus 2019 adalah sebuah bencana yang menjadi fenomena global yang belum pernah terjadi. Wabah ini telah menginfeksi lebih banyak orang dari pada wabah apa pun. Dampak dan korbannya bukan hanya pada masalah kesehatan, tetapi juga ekonomi, sosial dan budaya. Menyita banyak energi waktu dan dana, juga korban jiwa yang tidak sedikit. Sampai makalah ini ditulis belum ada tanda-tanda wabah ini akan berakhir. Belum ditemukan vaksin antivirusnya. Dampak pandemi ini sudah menimbulkan lebih banyak goncang yang mengubah di banyak aspek, di banyak negara. Teknologi di negara maju mana pun belum ada yang dapat mengatasinya.

Akibat Infeksinya yang begitu cepat dan sulit dideteksi telah membuat dunia mengalami perubahan besar. Memaksa negara semaju mana pun untuk membangun strategi menyesuaikan diri terhadap ancaman virus ini. Dunia dipaksa harus membuat kehidupan dalam kenormalan baru atau new normal, yang sesungguhnya suatu keabnormalan. “Kalau mau survive, harus adaptatif, mungkin begitu slogan yang bijak.

Tatanan hidup dalam kenormalan baru itu telah menuntut sektor-sektor yang dulu dianggap sudah mapan memikirkan ulang pola dan kebijakan yang harus disesuaikan sedemikian rupa. Termasuk di dalamnya dalam sektor pendidikan, ekonomi dan kerohanian warga jemaat.

 Idiosinkrasi telah terjadi. Di bidang pendidikan, proses belajar tatap muka berubah menjadi “tatap skrin” atau online. Di bidang perekonomian, semakin banyak orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja yang meningkatkan kemiskinan. Di bidang kerohanian, gereja dituntut mengubah pola ibadah sedemikian rupa, lebih mengandalkan teknologi digital. Segalanya berubah, tetapi Tuhan Yesus tidak berubah. Sesuai rencana-Nya, viruskorona ini melayani kehendak Tuhan untuk kemuliaan-Nya.

Diterbitkan oleh Fati Aro Zega

Dosen STA-Batu Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: